Warisan "Merebut Kota Perjuangan" mengajarkan kita tentang pentingnya literasi kritis dalam mengonsumsi media sejarah—baik itu buku, komik, film, maupun konten digital. Sejarah tidak pernah netral; ia selalu ditulis dari sudut pandang tertentu, untuk tujuan tertentu.
Namun, ironisnya, meskipun Soeharto menyatakan tidak bermaksud menonjolkan jasa seorang atau golongan, justru komik inilah yang secara sistematis menempatkan dirinya sebagai tokoh sentral dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Buku Merebut Kota Perjuangan.pdf
Other vital historical actors—such as Sultan Hamengkubuwono IX (who initiated the idea of the offensive), General Sudirman, and local guerrilla fighters—are relegated to minor, secondary roles. 3. Artistic Significance: Hasmi and Wid NS digelarlah perlawanan yang dikenal sebagai .
Seperti yang ditulis oleh Aldino Widyarta Putra dalam skripsinya: komik ini digunakan oleh Soeharto pada masa kejayaannya sebagai pencitraan dirinya. Namun, pada akhirnya, sejarah tidak bisa sepenuhnya dikendalikan. Ketika rezim itu runtuh pada 1998, narasi yang pernah dibangun dengan susah payah ikut terguncang. untuk tujuan tertentu. Namun
Di tengah kondisi genting ini, digelarlah perlawanan yang dikenal sebagai . Diprakarsai oleh jajaran tertinggi militer di Divisi III/GM III di bawah Kolonel Bambang Sugeng, serangan ini memiliki dua tujuan utama: pertama, membuktikan kepada dunia internasional (khususnya PBB) bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih ada dan memiliki kekuatan, dan kedua, mematahkan moral pasukan Belanda.
Akses portal ilmiah seperti ResearchGate atau repositori institusi (misalnya UGM) untuk mengunduh PDF artikel ilmiah yang melampirkan potongan panel komik sebagai objek penelitian.
Praktisi komik Erwan Hersi Susanto (Iwank) menilai, komik ini memiliki alur cerita yang bagus karena proses pembuatannya dilakukan lewat riset yang mendalam. Segi visualnya juga cukup menarik karena merupakan komik berwarna—sebuah kemewahan pada zamannya ketika komik berwarna masih jarang ditemukan.